Alasan Spanyol Bisa Optimistis Kalahkan Argentina

Tim nasional Spanyol akan bertanding melawan Argentina di final Piala Dunia 2026 di Stadion New York New Jersey, Amerika Serikat, pada hari Senin, 20 Juli 2026, dengan pertandingan dimulai pukul 02.00 WIB. Dikenal sebagai La Furia Roja, Spanyol telah membangun momentum kuat sepanjang turnamen setelah hasil imbang melawan Tanjung Verde di fase grup. Mereka mengalahkan Portugal (1-0), Belgia (2-1), dan Prancis (2-0). Mereka hanya kebobolan satu gol, yang dicetak oleh Charles De Ketelaere pada babak perempat final.
Ini akan menjadi penampilan kedua Spanyol di final Piala Dunia, menyusul kemenangan mereka pada tahun 2010 di Afrika Selatan. Berdasarkan performa mereka, tim yang sering dijuluki Los Matadores ini dipandang sebagai favorit untuk mengalahkan Argentina di final, menurut DPA.
Kekompakan Jadi Senjata Utama La Furia Roja
Lamine Yamal, yang berusia 19 tahun, menarik perhatian besar sepanjang turnamen.
Namun, dampaknya tidak semenonjol peran pemain kunci di tim lain, seperti Lionel Messi untuk Argentina, Harry Kane dan Jude Bellingham untuk Inggris, Erling Haaland untuk Norwegia, serta trio Prancis: Kylian Mbappé, Michael Olise, dan Ousmane Dembélé.
Setelah pertandingan semifinal, pelatih Spanyol Luis de la Fuente mengatakan, "Kami bermain melawan salah satu tim nasional terbaik, tetapi mereka harus menghadapi sebuah tim yang sesungguhnya. Kami adalah sebuah tim."
Spanyol berhasil mencapai final meskipun Yamal hanya mencetak satu gol dan memberikan satu assist. Banyak momen penentu datang dari pemain lain yang terintegrasi dengan baik dalam sistem permainan tim. Mikel Oyarzabal adalah contoh yang tepat; gol penaltinya saat melawan Prancis menandai gol kelimanya di Piala Dunia 2026—sebuah pencapaian mengesankan bagi penyerang Real Sociedad yang mungkin tidak termasuk dalam jajaran sepuluh pemain penyerang terbaik dunia.
Mikel Merino juga memainkan peran krusial dengan mencetak gol kemenangan pada menit-menit akhir pertandingan melawan Portugal maupun Belgia. De la Fuente menambahkan, "Kami semua berjuang demi tujuan yang sama, bukan sekadar ambisi pribadi. Saya belum pernah merasakan kebersamaan yang begitu luar biasa dalam sebuah kelompok, baik di dalam maupun di luar lapangan. Selama 47 hari kami bersama, kami sama sekali tidak mengalami masalah."


